Kasih ibu, gabungan dua kata kasih dan ibu, begitu indah ketika kita
dengar, pandang dan rasakan. Hanya dari dua kata itu fikiran kita akan melayang
mengingat sosok wanita muda, renta, atau bahkan sosok wanita yang sudah lama
tak kita jumpai di dunia ini.
Ibu.... dialah wanita itu, wanita kuat yang selalu tersenyum meskipun
letih ketika harus menahan rasa mual berkali-kali yang bisa sewaktu-waktu datang, sabar menahan
rasa berat saat kita dalam kandungan, tetap berjalan-jalan melakukan aktivitas
bahkan mungkin bekerja. Mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita hingga ketika
kita sudah terlahir, dengan setianya mengikuti perkembangan dan pertumbuhan
kita. Rela tidak tidur semalaman untuk menunggui kita yang menangis atau
sekedar mengajak kita bercerita meskipun kita tidak pernah merespon, bangun di
tengah malam hanya untuk membuatkan susu dan menggantikan popok. Begitu telatennya
merawat kita saat kita sakit, mengajarkan kita berbicara, berdiri, berjalan.
Rela menahan rasa lapar untuk
tetap melihat kita bisa tersenyum karena rengekan kita untuk sebuah
permen atau mainan. Berbohong akan letih dan sakitnya hanya untuk membuat kita
tetap semangat. Kesetiaan dan kesabarannya tak pernah berhenti hingga tutup akhir
hayatnya. kasih ibu yang tak pernah berkurang sekalipun kini kita tidak lagi
memeluknya, mengadu akan cerita-cerita kita saat di sekolah, di tempat kerja
atau mengenai persoalan pribadi.
Ibu yang tidak pernah marah hingga mebuat kasih itu pupus meskipun kita
melawan saat perbedaan pendapat sering terjadi, saat kita sibuk akan kehidupan
kita. Ibu tidak pernah mengubur kasihnya. Itulah ibu yang selalu rela mealkukan
apapun untuk kita buah hatinya. Kasihnya yang tak pernah usai..kasihnya yang
sepanjang masa.
Namun sering kita terlupa ibu jugalah manusia biasa yang butuh disayangi,
butuh di manja, butuh perhatian. Saat kecil kita begitu asyik bercerita kepada
ibu, lari ke pelukan ibu. Selalu bermanja dengan ibu, sesibuk apapun ibu selalu
ada untuk kita. Tetapi kita, ingatkah kapan terakhir kita memeluk ibu, mencium
tangannya. Bercerita kepadanya bermanja kepadanya. Kesibukan akan dunia kerja,
kesibukan kuliah, sekolah atau organisasi sekan menyita waktu kita untuk wanita
penuh kasih itu.
Sadarkah bahwa ibu merindu, merindu anaknya yang selalu bercerita
kepadanya. Meminta perhatian darinya, dan memberinya perhatian. Bahkan
terkadang hanya karena berbeda pemikiran kita meninggikan suara saat dihadapannya.
Atau sengaja membuatnya kesal dengan dalih “biar ibu tau kalo saya itu sudah
besar sudah bisa jaga diri gak mau lagi diatur-atur kayak anak kecil, orang tua
itu kolot pemikirannya” kemudian kita pergi meninggalkan rumah hingga beberapa
hari hanya karena kesal. Kita sengaja melakukan itu hanya karena ingin dimengerti.
Mungkkin saat melakukan hal tersebut kita masih bisa tertawa, bersenang-senang
dengan teman-teman kita. Tapi ibu kita mencemaskan kita, menahan tekanan batin
dan yang teramat. Bahkan tidak jarang karena hal tersebut menyebabkan ibu kita
sakit karena fikiran.
Kita kadang lupa semakin dewasa kita semakin renta ibu kita justru
semakin turun kedewasaaan ibu kita. Seharusnya kita sebagai anak yang kini
mampu mengayomi menjaga dan menyayangi ibu kita. Bukan justru merasa sudah
mampu berdiri sehingga tidak lagi membutuhkan ibu. Nauzubillahimindalik. Kalo
kita kembali mengingat kisah Malin Kundang yang bukan sekedar dongeng, tetapi
memilki makna dalam dari kisah tersebut. Rasanya begitu miris.. begitukah kita
menjadi Malin kundang itulah kasih anak yang sepanjang galah. Jika memang kita
seperti itu maka bersiaplah untuk kehilangan satu pintu surga.
Dan Kami telah perintahkan kepada manusia (berbuat baik )
kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada kedua orang ibu bapakmu, dankepadakulah kembalimu.” (Luqman: 14)
Seharusnya tidak ada ungkapan “Kasih ibu sepanjang masa kasih anak
sepanjang galah”. Galah sendiri berarti sepenggal. Maukah kita menjadi anak
yang seperti itu??. Semoga kita bisa sama-sama merenungi bagaimana kasih kita
kepada ibu kita. Mari bersama kita katakan dengan setulus hati “Ibu i love
you”.
*Vina Oktavianty

Tidak ada komentar:
Posting Komentar