Maulid Nabi Muhammad saw yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul awwal atau tepatnya 5 februari sejatinya bukanlah sekedar peringatan semata yang diramaikan dengan berbagai kegiatan. Baik itu berupa perayaan dalam bentuk pengajian tasyakuran seperti yang biasa kita temui di daerah-daerah tertentu sesuai adat atau kebudayaan daerah tersebut, baik itu dari kalangan tinggi ataupun kalangan masyarakat bawah. Mulai dari orang tua, remaja hingga anak kecil. Seperti yang ada di pekalongan sendiri misalnya peringatan maulid Nabi seringnya dilaksanakan dengan pengajian dan arak-arakan anak-anak TPQ/ SD/ TK sembari melantunkan shalawat Nabi. Ada berbagai macam acara yang diadakan dalam rangka mengenang Nabi Muhammad saw. Namun demikian bagaimanapun bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad tersebut kiranya tidak hanya kita jadikan sebagai event untuk mengenag Nabi Muhammad yang merupakan Nabi terakhir tetapi kita renungkan makna dibalik peringatan tersebut, seperti perjuangan Nabi Muhammad untuk Agama penyempurna, agama Islam. Kesabaran dan sifat rendah hati beliau, bagaimana mulianya Nabi Muhammad dalam mengemban tugas mulia, menyebarkan Agama Islam. Dan berbagai keistimewaan Nabi Muhammad yang bisa kita jadikan suritauladan. Bahkan mungkin pada saat acara peringatan maulid Nabi dalam pengajian misalnya kita juga diajak untuk flashback pada sejarah dan perjuangan Nabi. Namun tidak kemudian berhenti pada perenungan pada saat mendengarkan tausiyah saja. Tetapi bagaimana kita mencoba merefleksikan diri untuk meneladani Rosulullah saw.
Terlebih bagi kaum muda, yang notabene masih dalam masa-masa pencarian jati diri, seringnya terlupa bahwa kita memiliki suritauladan yang hebat. Suritaulada yang patut kita jadikan idola dalam pencarian jatidiri. Jika melihat kondisi masyarakat sekarang ini terutama generasi muda sekarang lebih mengkiblat pada budaya barat, lebih suka mengidolakan tokoh-tokoh seleb dengan berbagai pandangan yang seringnya hanya dilihat dari sisi material, seperti penampilan, gaya hidup, sikap bahkan kepribadian. Kaum muda begitu mudahnya mengkiblat tanpa mempertimbangkan baik buruk dari apa yang mereka tiru. Yang menyebabkan moral generasi muda juga terkontaminasi. Mengidolakan tokoh seperti seleb misalnya tidaklah salah hal tersebut diperbolehkan, siapapun tokoh idola itu. Namun kembali kepada kita apakah benar yang kita idolakan membawa kita pada kebaikan atau justru menjerumuskankita pada hal-hal yang merugikan. Meskipun masa muda adalah masa pencarian jati diri masih belum terlalu mempertimbnagkan baik buruk, lebih identik berfikir instan dan havefun. Tapi bukan berarti generasi muda tidak bisa berfikir positif. Maka itulah Maulid Nabi Muhammad saw yang memiliki jutaan makna didalamnya, salah satu dari makna maulid tersebut adalah kita bisa merefleksi diri bertanya kepada hati kita sudahkan kita meneladani Rasulullah. Jangan sampai kita yang mengaku umat beliau tetapi tidak mengenal sosok dan bagaimana kepribadian Rosul yang mulia yang dapat kita jadikan sebagai suritauladan. Teringat buku yang ditulis Aagym ada sebuah kalimat yang sangat bagus “Mulai dari hari ini mulai dari sekarang dan mulai dari diri sendiri”. Rasanya terlalu sayang jika Maulid Nabi Muhammad saw hanya kita jadikan sebagai ritual semata.Maulid Nabi Muhammad saw yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul akhir atau tepatnya 5 februari sejatinya bukanlah sekedar peringatan semata yang diramaikan dengan berbagai kegiatan. Baik itu berupa perayaan dalam bentuk pengajian tasyakuran seperti yang biasa kita temui di daerah-daerah tertentu sesuai adat atau kebudayaan daerah tersebut, baik itu dari kalangan tinggi ataupun kalangan masyarakat bawah. Mulai dari orang tua, remaja hingga anak kecil. Seperti yang ada di pekalongan sendiri misalnya peringatan maulid Nabi seringnya dilaksanakan dengan pengajian dan arak-arakan anak-anak TPQ/ SD/ TK sembari melantunkan shalawat Nabi. Ada berbagai macam acara yang diadakan dalam rangka mengenang Nabi Muhammad saw. Namun demikian bagaimanapun bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad tersebut kiranya tidak hanya kita jadikan sebagai event untuk mengenag Nabi Muhammad yang merupakan Nabi terakhir tetapi kita renungkan makna dibalik peringatan tersebut, seperti perjuangan Nabi Muhammad untuk Agama penyempurna, agama Islam. Kesabaran dan sifat rendah hati beliau, bagaimana mulianya Nabi Muhammad dalam mengemban tugas mulia, menyebarkan Agama Islam. Dan berbagai keistimewaan Nabi Muhammad yang bisa kita jadikan suritauladan. Bahkan mungkin pada saat acara peringatan maulid Nabi dalam pengajian misalnya kita juga diajak untuk flashback pada sejarah dan perjuangan Nabi. Namun tidak kemudian berhenti pada perenungan pada saat mendengarkan tausiyah saja. Tetapi bagaimana kita mencoba merefleksikan diri untuk meneladani Rosulullah saw.
Terlebih bagi kaum muda, yang notabene masih dalam masa-masa pencarian jati diri, seringnya terlupa bahwa kita memiliki suritauladan yang hebat. Suritaulada yang patut kita jadikan idola dalam pencarian jatidiri. Jika melihat kondisi masyarakat sekarang ini terutama generasi muda sekarang lebih mengkiblat pada budaya barat, lebih suka mengidolakan tokoh-tokoh seleb dengan berbagai pandangan yang seringnya hanya dilihat dari sisi material, seperti penampilan, gaya hidup, sikap bahkan kepribadian. Kaum muda begitu mudahnya mengkiblat tanpa mempertimbangkan baik buruk dari apa yang mereka tiru. Yang menyebabkan moral generasi muda juga terkontaminasi. Mengidolakan tokoh seperti seleb misalnya tidaklah salah hal tersebut diperbolehkan, siapapun tokoh idola itu. Namun kembali kepada kita apakah benar yang kita idolakan membawa kita pada kebaikan atau justru menjerumuskankita pada hal-hal yang merugikan. Meskipun masa muda adalah masa pencarian jati diri masih belum terlalu mempertimbnagkan baik buruk, lebih identik berfikir instan dan havefun. Tapi bukan berarti generasi muda tidak bisa berfikir positif. Maka itulah Maulid Nabi Muhammad saw yang memiliki jutaan makna didalamnya, salah satu dari makna maulid tersebut adalah kita bisa merefleksi diri bertanya kepada hati kita sudahkan kita meneladani Rasulullah. Jangan sampai kita yang mengaku umat beliau tetapi tidak mengenal sosok dan bagaimana kepribadian Rosul yang mulia yang dapat kita jadikan sebagai suritauladan. Teringat buku yang ditulis Aagym ada sebuah kalimat yang sangat bagus “Mulai dari hari ini mulai dari sekarang dan mulai dari diri sendiri”. Rasanya terlalu sayang jika Maulid Nabi Muhammad saw hanya kita jadikan sebagai ritual semata.
(Radar Pekalongan, 14 Februari 2012 "Expresi Muslimah")

Tidak ada komentar:
Posting Komentar