Selasa, 07 Mei 2013

Teater Yuhu


Kelas Teater Lingkar Pena

Forum Lingkar pena... ahhh.. paling Cuma isinya orang-orang kutu buku yang kerjaannya Cuma uplek-uplek di perpus, kemana-mana bawa buku. Pake kaca mata, kuper, gak gaul... kutu buku maniak banget dech pokoknya.....???. haaallllllooooooooooooooooo???? Salah gais ,, salah banget mbak , mas brow.... itu fikiran primitif namanya.he..he,...he..

Forum lingkar pena, betul sekali berisi kawan-kawan yang punya minat dan semangat untuk berkarya, tapi jangan salah.. bukan berarti hanya tukang baca buku, jadul dan tertutup. Hoho...ho.. salah besar. Di flp ada kelas menulis, saling memotivasi untuk berkarya, ada bedah karya, ada sharing online,, dll.. ada juga kelas teater. 

Kelas teater flp biasanya diisi oleh kader flp sendiri yang memang exis di dunia teater pekalongan. Jadi berbagi ilmu dari berbagai warna untuk saling belajar. Soo..... kata siapa flp Cuma orang-orang kutu buku jadul. Mari semangat BERKARYA...!!!


Memories 2


Senin, 06 Mei 2013

Memories Lingkar Pena




Plat Pulpen Dua FLP Pekalongan

Suasana Fun di dalam saung-saung kafe BSP pekalongan terlihat mewarnai  expresi wajah para peserta Plat Pulpen 2 (Pelatihan Penulis lingkar Pena) yang diadakan Forum Lingkar Pena Pekalongan. Saung kafe yang berisi 80an peseta terasa berbeda dari biasanya, bukan hanya karena penuh dengan orang-orang yang memilki semangat berkarya untuk menjadi penulis, tetapi juga karena dilengkapi dengan hadirnya Afifah afra penulis nasional yang memilki banyak karya. Selain itu dihadirkan juga pembicara lokal seperti Aveus har (penulis novel dari Pekalonga), Ghufron muda dan Najmudin (sastrawan Pekalongan). 

Pada acara Plat Pulpen tersebut tidak hanya diisi materi-materi kepenulisan saja, tetapi diselingi dengan simulasi kepenulisan yang berkaitan dengan tema “Cara Gila Jadi Penulis”. Antusias peserta terlihat saat simulasdi dimulai dan saat sesi tanya jawab. Acara plat pulpen juga menghadirkan kawan-kawan teater pekalongan, dengan teatrikanya berjudul batik membuat peserta dan panitia pelat pulpen menjadi lebih semangat melaksanakan acara tersebut yang kemudian ditutup dengan pembagian doorprize dan foto-foto bersama afifah afra.

LOVE MOM


Kasih ibu sepanjang Masa kasih anak sepanjang Galah

Kasih ibu, gabungan dua kata kasih dan ibu, begitu indah ketika kita dengar, pandang dan rasakan. Hanya dari dua kata itu fikiran kita akan melayang mengingat sosok wanita muda, renta, atau bahkan sosok wanita yang sudah lama tak kita jumpai di dunia ini.
Ibu.... dialah wanita itu, wanita kuat yang selalu tersenyum meskipun letih ketika harus menahan rasa mual berkali-kali  yang bisa sewaktu-waktu datang, sabar menahan rasa berat saat kita dalam kandungan, tetap berjalan-jalan melakukan aktivitas bahkan mungkin bekerja. Mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita hingga ketika kita sudah terlahir, dengan setianya mengikuti perkembangan dan pertumbuhan kita. Rela tidak tidur semalaman untuk menunggui kita yang menangis atau sekedar mengajak kita bercerita meskipun kita tidak pernah merespon, bangun di tengah malam hanya untuk membuatkan susu dan menggantikan popok. Begitu telatennya merawat kita saat kita sakit, mengajarkan kita berbicara, berdiri, berjalan.
Rela menahan rasa lapar untuk  tetap melihat kita bisa tersenyum karena rengekan kita untuk sebuah permen atau mainan. Berbohong akan letih dan sakitnya hanya untuk membuat kita tetap semangat. Kesetiaan dan kesabarannya tak pernah berhenti hingga tutup akhir hayatnya. kasih ibu yang tak pernah berkurang sekalipun kini kita tidak lagi memeluknya, mengadu akan cerita-cerita kita saat di sekolah, di tempat kerja atau mengenai persoalan pribadi.
Ibu yang tidak pernah marah hingga mebuat kasih itu pupus meskipun kita melawan saat perbedaan pendapat sering terjadi, saat kita sibuk akan kehidupan kita. Ibu tidak pernah mengubur kasihnya. Itulah ibu yang selalu rela mealkukan apapun untuk kita buah hatinya. Kasihnya yang tak pernah usai..kasihnya yang sepanjang masa.
Namun sering kita terlupa ibu jugalah manusia biasa yang butuh disayangi, butuh di manja, butuh perhatian. Saat kecil kita begitu asyik bercerita kepada ibu, lari ke pelukan ibu. Selalu bermanja dengan ibu, sesibuk apapun ibu selalu ada untuk kita. Tetapi kita, ingatkah kapan terakhir kita memeluk ibu, mencium tangannya. Bercerita kepadanya bermanja kepadanya. Kesibukan akan dunia kerja, kesibukan kuliah, sekolah atau organisasi sekan menyita waktu kita untuk wanita penuh kasih itu.
Sadarkah bahwa ibu merindu, merindu anaknya yang selalu bercerita kepadanya. Meminta perhatian darinya, dan memberinya perhatian. Bahkan terkadang hanya karena berbeda pemikiran kita meninggikan suara saat dihadapannya. Atau sengaja membuatnya kesal dengan dalih “biar ibu tau kalo saya itu sudah besar sudah bisa jaga diri gak mau lagi diatur-atur kayak anak kecil, orang tua itu kolot pemikirannya” kemudian kita pergi meninggalkan rumah hingga beberapa hari hanya karena kesal. Kita sengaja melakukan itu hanya karena ingin dimengerti. Mungkkin saat melakukan hal tersebut kita masih bisa tertawa, bersenang-senang dengan teman-teman kita. Tapi ibu kita mencemaskan kita, menahan tekanan batin dan yang teramat. Bahkan tidak jarang karena hal tersebut menyebabkan ibu kita sakit karena fikiran.
Kita kadang lupa semakin dewasa kita semakin renta ibu kita justru semakin turun kedewasaaan ibu kita. Seharusnya kita sebagai anak yang kini mampu mengayomi menjaga dan menyayangi ibu kita. Bukan justru merasa sudah mampu berdiri sehingga tidak lagi membutuhkan ibu. Nauzubillahimindalik. Kalo kita kembali mengingat kisah Malin Kundang yang bukan sekedar dongeng, tetapi memilki makna dalam dari kisah tersebut. Rasanya begitu miris.. begitukah kita menjadi Malin kundang itulah kasih anak yang sepanjang galah. Jika memang kita seperti itu maka bersiaplah untuk kehilangan satu pintu surga.
Dan Kami telah perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, dankepadakulah kembalimu.” (Luqman: 14)
Seharusnya tidak ada ungkapan “Kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah”. Galah sendiri berarti sepenggal. Maukah kita menjadi anak yang seperti itu??. Semoga kita bisa sama-sama merenungi bagaimana kasih kita kepada ibu kita. Mari bersama kita katakan dengan setulus hati “Ibu i love you”. 
*Vina Oktavianty