Selasa, 03 Januari 2012

Segores Cinta Tuk Jendela Dunia


Segores Cinta Tuk Jendela Dunia

Jendela itu masih saja belum terbuka lebar, hanya segelintir orang
 yang mau membukanya. Mau tersenyum dan menyapa jendela itu.
Sesekali ada yang melirik tapi entah apa yang ada difikiran orang-orang itu hingga
mereka hanya mampu melirik kemudian kembali sibuk dengan urusan mereka.
Tak ada waktu..tak ada uang itu yang mereka ucapkan……..





Selesai kuliah seperti biasa kaki kecil ini menuju halte bus untuk menunggu bus yang selalu setia mengantarkanku ke rumah. Beberapa mahasiswa yang tak ku kenal juga masih sabar menunggu datangnya bus. Sayup-sayup terdengar pelan obrolan sekelompok mahasiswa yang sepertinya masih asik berdiskusi “Sebel…buku lagi.. buku lagi..” ucap salah seorang dari mereka. “iya.. emang nyebelin thu dosen, mana beli bukunya mahal, udah gitu tetep disuruh bikin makalah”. “sama’, kemaren aja kelasku disuruh meresume buku minmal 3 sumber bacaan, wah males banget nyarinya keperpus”. Seorang lagi ikut menimpali “kalo meresume masih mending, jadi Cuma pinjem di perpus ato browsing internet terus tinggal copy paste..nah kalo yang wajib beli buku udah gitu kudu di resume kumpulin make tulisan tangan..huhh…kurang kerjaan banget kan”. Aku tersenyum mendengar percakapan mereka, aku fikir percakapn seperti itu hanya berlaku pada anak-anak SMP atau SMA, ternyata mahasiswa pun masih ada yang mengeluh tentang buku dan tulis-menulis. Mungkin Karena memang itu makanan dunia pendidikan ya…??. Makanan…??? Kalau berbicara soal makanan harusnya kita bersyukur, dari makanan kita bisa mendapat energi untuk berkativitas. Buku...membaca…menulis bukankah itu makanan dan nutrisi untuk otak kita. Kenapa ya masih banyak yang mengeluh untuk membeli buku atau membaca?? Coba kalau membeli pulsa atau accecories, pasti beda ceritanya. Entahlah…tiap orang punya pemikiran yang berbeda.
Tak lama sebuah bus jemputan ku datang. Sekelompok mahasiswa tadi masih asik dengan percakapan mereka. Sembari menunggu bus ini sampai rumah, ku isi waktu dengan membaca buku. Tiba-tiba seorang ibu menyapa ku. “Baca buku dek, rajin banget…”. “eh iya bu..gak rajin ngisi waktu aja biar gak ngantuk” Jawabku sederhana. “Buku pinjam perpus ya dek”. “Alhmdulillah hasil tabungan bu..” jawabku sembari tersenyum. “oh begitu, kok mau si beli buku..padahal kalo udah dibaca yah sudah kan selesai, paling banter disimpen dilemari kalo gak dari pada dimakan rayap palingan dikilokan buat dijual”. Glekkk….. gak nyangka si ibu bakal nyeletuk seperti itu. Aku hanya tersenyum. “Kiri.kiri..pak kiri…, ayo dek ibu duluan”. Ibu itu turun dari bus. Tak lama aku juga turun. Tapi rasanya ada yang mengganjal di dalam hati  dari ucapan ibu tadi. Entah apa yang membuat hati ini merasa begitu aneh..seperti ada yang menekan dada.
Sesampainya di rumah aku bergegas shalat dzuhur. Selesai  shalat,..Astaghfirullah……!!!! Aku tau apa yang membuat dada ini sesak seperti tersumbat, aku ditegur..iya mungkin Allah menegurku melalui ibu yang tadi. Mataku tertuju pada buku-buku yang memenuhi lemari didalam kamarku. Aku berlari kecil menuju lemari putih diruang makan, rasanya ingin berjatuhan air mata ini karena rasa bersalahku terhadap buku-buku yang hanya menumpuk didalam lemari. Bahkan ada beberapa buku yang rusak karena dimakan rayap. Gudang…?? iya gudang…. aku menuju gudang kecil disudut ruang, tangan ini membokar 3 dus besar berisi buku-buku yang tak terawat, bahkan tak tersentuh. Hanya ditemani kecoa, rayap dan berselimut debu-debu kotor. Ya Allah…… malu sekali.,malu…. Rasanya sesuatu yang menekan dadaku tadi telah mencair menjadi airmata didalam hati. Selama ni aku yang  selalu menggembar-gemborkan pentingnya membaca, yang paling getol kalo ada bazar buku, yang paling rajin keperpus… ko’ bisa-bisanya lupa hal kecil yang sebenarnya begitu penting. Ya Allah.. maafkan hamba. Buku juga perlu dirawat, buku juga perlu dihargai. Buku juga perlu disayangi. Betapa teganya hamba terhadap mereka yang sudah memberiku begitu banyak ilmu, bukankah mereka itu jendela dunia. Betapa bodohnya aku ini…… kenapa baru aku sadari. Sunguh benar-benar bodoh..bodoh sekali, padahal jika difikir, begitu banyak buku yang bisa terkumpul. Dari zamannya aku SD bahkan jika buku-buku ini dirawat kemudian aku tata rapi di salah satu ruang rumahku, dan aku persilakan teman-temanku atau siapapun meminjam dan membacanya bukankah dapat membawa manfaat untuk orang lain, terlebih buku-buku dari ke empat kakaku yang sekarang sudah bekerja. Bukankah buku mereka pun banyak. Semua itu harusnya mampu aku kelola untuk membawa kemanfaatan kepada orang lain. . Bukankah aku selama ini begitu geregetan dengan orang-orang yang enggan membuka jendela dunia dan selalu bemimpi semua orang mau untuk membuka jendela dunia dengan membaca. Ternyata aku tak ada bedanya dengan mereka yang enggan membaca. Oh bodoh..sungguh diriku ini sangat bodoh.
Teringat kata-kata ibu yang aku temui di dalam bus tadi. “oh begitu, kok mau si beli buku..padahal kalo udah dibaca yah sudah kan selesai, paling banter disimpen dilemari kalo gak dari pada dimakan rayap palingan dikilokan buat dijual”. Pantas saja aku hanya tersenyum ketika ibu tadi berkata demikian karena apa yang dikatakan ibu tadi aku lakukan, dan itu salah. Ya Allah…betapa diri ini begitu egois dan merugi. Maafkan hamba ya Allah..terimakasih atas teguran lembut yang Engkau berikan kepada hamba. Semoga teguran lembut ini mampu memberi kekuatan  kepada ku, kawan-kawanku, dan “mereka yang enggan membuka jendela”  untuk selalu ingin membuka jedela dunia.
By : “inaaz_zahra”



4 komentar:

Unknown mengatakan...

Hanya sebuah cerita kecil , just argmnt..

Fatkhur mengatakan...

Mantabs... hehe

Unknown mengatakan...

@roni : Terimakasih.. ditunggu masukannya :)

Unknown mengatakan...

@Fatkhur : Mantabs juga,, :D