Memetik cinta
Erena memutar-muatar flasdisk ditangannya , sesekali melirik kearah ibunya yang masih sibuk melayani pembeli di warung kecil keluarganya. “Bismillah… berani….” Ucapnya lirih coba melangkahkan kaki ke arah ibunda. Baru tiga langkah kedepan erena kembali berbalik arah, “gak..gak..ibu pasti gak akan ngizinin, tapi kalo gak ngomong artinya menyerah sebelum berperang??? Aduh kok jadi bingung begini ya??”.
“Erena… kamu itu kenapa si, dari tadi muter-muter ngomong sendiri gak jelas kayak orang kebingungan, ada apa??”. Jantung erena hampir saja copot mendengar suara itu. Wanita paruh baya itu mendekat kearah erena. “eh ibu..gak bu…itu…ehm..gak apa-apa kok”. “erena mau ngomong sesuatu ke ibu…. Masalah mbak leni yang suka nanyain erena gak kuliah bikin panas kuping? Atau bude galih yang sering nyindir erena gara-gara gak lulus SPMB??”. Erena memandang ibunya dalam sembari tersenyum. “enggak bu… erena udah kebal kalo sama mbak leni dan bude galih tetangga kita yang super duper hiper aktif, erena nggak apa-apa..ibu tenang aja ya”. “bener gak apa-apa..ya sudah shalat ahar sana nanti gentian sama ibu jaga toko”. “ok cinta….”. “ehm..bu sebenarnya eren mau minta izin ke jogja”. “Jogja ren…?? Kamu mau apa kesana..ada apa?. Jawab ibu kaget. “gini bu seminggu yang lalu eren coba ngajuin lamaran kerja yang eren dapet di Koran. Alhamdulillah dapet panggilan untuk ikut ujian praktek sama ujian psikotest. Dan ternyata erena lulus bu.. jadi erena harus ikut pelatihan selama 3 hari di jogja sebelum eren mulai kerja. Tapi tenag aja..nanti eren kerjanya di sini kok. Boleh ya bu…??. Please ya..bu..eren pingin kerja. Bu…..”. Eren terus memberi penjelasan kepada ibunya. Ibunda eren hanya diam memperhatikan eren. Senyuman kecil menghaisi wajh ibunda eren. “iy eren,,,gak apa-apa ibu percaya kamu bisa jaga amanah. “bener bu…ib gak marah..ibu ngizinin kan…bener ya.. ibu masih gak becanda kan?. Eren memeluk ibunya sembari menahan isaknya.
Pukul 23.30 erena masih sibuk menyiapkan barang-barang yang aakn dibawanya ke kota pelajar. Selesai memasukannya kedalam ransel hitam kesayangannya, erena memainkan jemarinya diatas keyboard.
“Tuhan terimaksih Engkau beri aku izin untuk menuntut ilmu..meski tidak lewat sebuah lembaga formal…
meski tidak bersama mahasiswa dan dosen….
Meski tidak menyandang status mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi..
tapi bagiku dimana pun adalah sumber ilmu…
Tuhan.. maafkan aku yang masih menyimpan kekecewaan
atas dirku yang gagal masuk perguruan tinggi negeri…
Tuhan maaf kan aku yang masih memeliki amarah
ketika harus menghadapi tetanggaku yang selal u bertanya
kuliah dimana… kok dirumah aja.. nggak kuliah….
Tuhan maafkan aku tiga minggu yang lalu ketika hasil spmb keluar
Dan tak ada namaku tertera..
Aku khilaf… aku menyalahkan keadilanmu…
Aku terpuruk dan hanya berdiam dikamar…
Aku menyalahkan kedua orangtuaku yang tak mampu
Membiayaiku kuliah di universitas swasta
Betapa egoisnya aku..
Dan tuhan,,,, terimkash karena engku beri aku iman
Engkau beri aku hati…
Sehingga aku mampu mencoba berdiri meski tertatih
Meski begitu berat ketika aku harus menghadapi
Mereka yang selalu bertanya..
Ketika ego rasa iriku muncul
Melihat teman-temanku menjadi mahasiswa
Ketika aku berfikir impinaku hanyalah tinggal impian…
Tapi aku harus terus berjalan… karena aku akan terus bermimpi..
Dan esok satu anak tangga baru harus aku hadapi
Tuk bisa sampai pada puncak.....
Terimakasih Tuhan…..
“erena”
“Ibu eren berangkat dulu ya..Assalammualaikum”. “loh kamu kan belum sarapan”. “gk apa-apa bu, nanti makan di tempat kerja aja, ok cinta”. Jawab eren tersenyum. Terhitung sudah hampir 7 bulan erena menjadi keluarga dari lembaga kecil tempatnya bekerja. Senyum ceria dan semangat erena tak pernah pudar meskipun dalam satu hari harus membawa tubuhnya selama 10 jam untuk bekerja.
Jemari kecil eren masih sibuk menari diatas keyboard, matanya tak pernah berhenti kekanan dan kekiri menatap setiap angka yang berada di layer monitor. Pekerjaannya sebagai administrasi membuat eren harus memulai belajar dari nol tentang acaunting yang dulu pernah dikenalnya hanya di kelas 1 SMA. Jurusan eren bahasa memang tidak klop dengan pekerjannya. Tapi entah apa yang membuat kedua atasan eren mau mempercayakan bagian itu kepada eren. “eren nanti rekap keuangan, rekap kwitansi bulan ini tolong diprint, oh iya jangan lupa Spp murid-murid di cek nanti yang sudah lewat jatuh tempo di konfirmasi ya orang tuanya. Saya mau ke keluar”. Ucap wanita muda berwajah chines kepada erena. “iya bu, segera saya kerjakan..titidj ya bu”. Erena dengan cekatan mengerjakan tugas-tugasnya. Tak lama suara telepon kantor berdering. “Mitra siswa creative selamat Sorei..” Sapa erena mengangkat gagang telepon. Erena kaget mendengar suara lembut yang tak asing. “ibu..kok tumben telfon ke kantor eren, ada apa bu?”. “iya maaf ya ibu ngganggu kamu kerja, habis hp kamu gak bisa dihubungi”. “oh iya gak apa-apa ibu gak ganggu,,maaf hp eren batrenya habis”. “ren nanti malam ibu nginep di rumah bude harjo kan anaknya nikahan, jadi ibu Bantu-bantu disana. Kunci rumah ibu titipkan lekmu ya di bengkel”. “oh begitu,,iya bu, nanti salam untuk bude harjo, maaf eren gak bisa Bantu”. “iya ndak apa-apa ren, , oh iya ren kok tadi waktu ibu telfon kamu gak langsung salam tapi malah selamat sore gak biasanya lho..”. eren kaget mendengar pertanyaan ibunya. “ehm..iya bu, soalnya…”. Belum selesai menjawab. Telpon terputus. ”kasian ibu harus nelfon kekantor..”. ucap eren lirih. Eren kembali pada komputernya. Namun hatinya terasa ada yang berbeda ketika ingat akan pertanyaan ibu nya dari balik telefon. Pikiran eren kembali pada 7 bulan silam ketika eren ikut training di jogja sebelum mulai bekerja.
Tepat pukul 4 subuh, eren, rendi, bu erlisa dan pak roni sampai di jogja. Travel yang mereka tumpangi berhenti di jalan Colombo. Pak roni sibuk menghubingi seseorang dari hp nya. Tak lama seorang wanita chines berambut pendek menghampiri mereka. Perempun itu keliahatan sangat ramah, sepeti bu erlisa atasan eren. Setelah berjalan di perumahan sekitar 20 menit kami dipersilakan memasuki sebuah mes sederhana yang bersih dan rapi. Eren tersenyum melihat tempatnya yang asri.. Selesai membersihkan diri eren bergegas mengambil mukenanya untuk menjalankan 2 rakaat subuh. “kiblatnya mana ya…mana sepi lagi, gak ada suara lantunan ayat suci alquran dar masjid kayak di rumah, Tanya siapa ya..bu erlisa dan pak roni….ehmm mereka seperti nya non muslim”. Erena keluar dari kamarnya coba mencari seseorang yang bisa ia temui. Tapi percuma tempat ini sangat sepi.
“asslam..rendi mf ganggu, kamu udah shlt subuh..kiblatnya arah mana ya?”
send message….
Rendi membalas sms eren.
“wlykmslm.. sama ren aq juga bingung, kita Tanya hati aja..ke arah mana pun insayaAllah benar yang penng niatan kita menghadap Allah”.
Eren tersenyum kecil. “ternyata sama-sama bingung..”, ucapnya dalam hati.
Iya..BISMILLAH..”
send…
rendi kembali membaca pesan darieren.
“Bismllh…J”.
“hari jumat, hari pertama training.. gak pernah kefikiran bakal ke jogja untuk ikut pelatihan kerja sebagi pengajar dan administrasi, bukan untuk kuliah..gak pernah ada yang tau akan apa yang bakal kita jalani kedepan” eren menghela nafas.
Eren, rendi, pak roni dan bu erlisa sudah berkumpul di ruang tamu. Mereka bersiap menuju tempat pelatihan. Eren dan rendi berjalan di belakang pak roni dan bu erlisa. Di gerbang tempat mereka menginap sebuah papan menarik perhatian eren. “penginapan santa yohanes”. Eren membacanya lirih. Eren dan rendi saling mengerutkan dahi. Di depan mereka sebuah bangunan besar bediri “Gereja santa Yohanes”. “Pantas aja rasanya giman gitu ya..ternyata kita tinggal di lokasi non muslim”. Ucap rendi lirih. “hust..jangan begitu gak enak kalo bu erlisa dan pak roni dengar”. Erena mengingatkan rendi. Perasaan erena tak menentu, ini pertamakali dalam hidupnya berada di lingkungan non muslim dan atasan erena pun natinya non muslim. Sangat jauh bebeda dengan lingkungna tempat tinggalnya yang dekat dengan pesantren. Betapa beruntungnya karena atasanku itu tidak pernah mempermasalahkan jilbabku. Fikir erena. Hari pertama pelatihan 50 % selesai pukul 11.00 erena dan rendi diperkenankan kembali ke mess untuk beristirahat. “eren bisa temenin aku cari masjid”. “masjid…..bisa, iya ya,,ini kan hari jumat kamu harus jumatan rendi”. “maka dari itu eren, temenin cari masjid yuk”. “ok,..”. Erena mengangguk.
“Eren…erena….“. Suara rendi memecah lamunan erena. “Astagfirullah…keasikan ngenang awal perjuangan jadi begini ni”. “ada apa ren”. “heh…malah tanya, udah jam 5 non mau pulang gak”. “gak kerasa cepet banget..,akhirnya bisa pulang”. “ya udah eren aku duluan ya”. “ok , duluan aja..aku beres meja kerjaku dulu”. Erena menata berkas-berkas pekerjaannya untuk bersiap pulang. “sipp..beres,waktunya back to home, istirahat sebentar jam tujuh mulai bergerak lagi private mapel ke rumah anak didik, .., lho majalah ku mana ya… kok gak ada, perasaan tadi udah aku simpen di di laci”. Erena mencari-cari majalah islam miliknya. “ini udah ke lima kalinya majalahku hilang… apa mungkin….??, astgfrll..knp jadi suudzon begini, sudah biarlah nanti juga kembali kalo rezeki eren”. Selesai mengajar private murid didiknya, erena menuju rumah. Sesampainya dirumah erena berbaring dikamar kesayangannya sejenak. “Sepi…tak ada suara ibu dan para tetangga lainnya yang biasanya ngerumpi di warung ibu”. Erena memandangi foto keluarganya. “ibu, kakak… eren sayang kalian. Ayah..eren kangen ayah….eren bakal jadi anak yang kuat seperti Ayah. Eren janji aka selalu menjaga ibu dan kakak, eren sekarang udah bisa kuat yah..bukan eren yang lemah, karena Ayah yang selalu ngajarin erena untuk kuat, eren bisa melewati 7 bulan kerja di lembaga pendidikan sebagai administrasi walaupun atasan eren nonmuslim tapi mereka baek. Walaupun awal bekerja eren merasa asing… ayah past tau , eren dilarang mengucap salam ketika ada tamu atau angkat telfon tapi harus mengucap selamat pagi atau selamat sore, eren juga gak suka dengan persaingan di dunia kerja, terkadang pak roni suka marah-marah kalo masih debat soal royalty sama rekan bisnisnya. Tapi eren inget ucapan ayah,, “kita boleh membaur tetapi jagan sampai melebur”. Oh iya yah…belakangin ini ada yang aneh, udah 5 kali lho eren kehilangan majalah el-fattah dikantor. Tapi ada yang bikin eren seneng dikantor, Sekarang bu erlisa pakain kerjanya lebih rapid dan tertutup, beliau gak pernah lagi mengenakan rok pendek, tetapi celan panjang dan kemeja panjang tambah cantik yah. Seandainya ditambah jilbab pasti tambah cantik. Ayah…. Maafin eren ya..sering ngebohongin ibu sama kakak, setiap pulang kerja. Erena selalu senyum ke ibu, tiap ibu Tanya capek ya re??? erena selalu bilang gak capek bu eren seneng banget bisa kerja. Tapi setelah eren sampai kamar. Eren hanya mampu mengadukan perjuangan eren diatas sajadah. Eren lelah..fisik eren letih, hati eren terkadang iri dengan teman-teman seusia eren yang bisa belajar dan menjadi mahasiswa, eren selalu memakai topeng senyuman didepan ibu. Tapi gak apa-apa…erena tau itu semua perjuangan. Kalo eren gak berjuang artinya erena pengecut, seperti yang ayah bilang saat eren dulu gagal ujian SPMB Ayah gak pernah berhenti ngasih erena semangat, sampai………. ayah ninggalin ibu, erena, dan kakak. Ayah pasti disana senyum-senyum melihat hidup eren sekarang warna-warni, eren gak pernah nyangk akan lewatin semua ini yah, apa yang dibilang ayah sama ibu ke erena bener, Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Mungkin kalo dulu erena lulus SPMB dan langsung kuliah, erena gak pernah ke jogja, gak pernah kenal bu erlisa, dan semua warna ini bikin eren banyak belajar arti kehidupan . Eren yakin semua ini perjuangan dan esok pasti akan berbuah manis. Satu harapan eren, Allah ngasih eren kesempatan untuk bisa kuliah. Ayah …. Erena kangen denger suara Ayah. Mutiara bening erena membasahi kedua pipinya. Erena bercerita sendiri seakan berbagi cerita dengan ayahnya yang meninggalkan erena dan keluarganya satu tahun yang lalu.
Erena dan bu erlisa sibuk merekap gaji guru-guru. Alunan lagu masa muda dari edcoustic terdengar dari hp eren. “bu maaf, saya angkat telfon sebentar ya…”. “ok” jawab singkat atasan erena itu. “Assalamualaikum..kakak ada apa? “. “kakak gak sabar pingin ngasih kamu kabar jadi kakakl telfon kamu langsung. Ren satu minggu lagi kakak wisuda ren”. “apa..?? wisuda lho..bukannya kakak masih sibuk nyelesein skripsi”. “Maaf ya ren, kakak sama ibu kompakan buat kasih surprise sama kamu, qt tau kamu udah cukup letih dengan pekerjaan kamu dan private kamu, qt gak pingin nambah beban kamu untuk cerita soal skripsi, siding, dan persiapan wisuda”. “kakak… “. “udah… yang penting sekarang kamu siap-siap ikut SPMB ya..mulia belajar lagi , kalo gak salah bulan depan tes nya”. “SPMB….” “iya…masih pingin kuliah kan,,atau udah keenakan jadi pegawai tiap bulan dapet gaji..”. kakak erena menggoda. “kakak..apaan sih..iya erena masih mau kuliah kak’”. Erena mengakhiri percakapan dengan kakaknya. Senyum dan syukur memancar dari wajah erena. “alhamdulillah ya Rabb…. “ucapnya lirih.
“guru-guru sudah semua, Nah..erena ini fee kamu bulan ini,makasih ya…” ucap bu erlisa sembari memberikan amplop putih kepada erena. “iya bu makasih y…”. Bu erlisa dan eren saling terdiam. “ada apa eren..sepertinya ada yang mau kamu sampaikan”. Erena hanya memandang wajah bu erlisa. “ehm..bu makasih ya..ibu ngasih saya kesempatan belajar di lembaga ini”. Bu erlisa mengernyitkan dahinya. “bu mungkin eren tahun ini mau risain, erena mau ngelanjutin kuliah bu”. “oh begitu…bagus itu ren, kamu kuliah saya sangat dukung. Nanti ambil kuliah sore saja..pagi-siangnya kamu bisa tetep disini, tenang saja nanti ada dispensasai buat eren”. “ehm..tapi bu..”. “oh iya nanti ambil akuntansi saja ya..jadi nyambung sama job kamu”. Bu erlisa masih terus semangat memberikan saran kepada erena, dan bercerita tentang dirinya dulu saat menjadi mahasiswa akuntansi. Erena kebingungan, rasanya tidak tega untuk melanjutka cerita dan keinginanan erena untuk consent kuliah.
Akhirnya hari itu tiba. Senin lalu erena dan ibunya pergi ke acara wisudawan kakaknya di solo. Minggu depan eren akan mendaftar ke Universitas di Solo. “Permisi..bu erlisa, maaf menganggu”. “iya eren tidak apa-apa..sini duduk”. Erena menyerahkan amplop surat pengunduran diri dengan perlahan. Bu erlisa tersenyum…”saya sudah tau , apa isi surat itu… kalo memang ini sudah keputusan eren. Saya percaya itu yang terbaik, Karena saya percaya erena, walaupun dikantor saya atasan kamu, kadang sering marah. Tapi saya sudah anggap erena seperti adik saya. Dan saya belajar banyak hal dari semangt dan kerja keras kamu ren”. “jadi ibu, gak marah saya risain sebelum kontrak saya selesai”. wanita chinse itu mneggeleng. “tapi pak roni..??”. “tenang saja saya sudah cerita kepada beliau, dan beliau sama seperti saya..”. “terimakasih bu…. “.”iya sama-sama..kapan kamu mau ke kampus baru untuk mulai pendaftaran “. “insyaAllah.. senin bu, hari ini jumat jadi masih ada hari sabtu saya tetep bekerja disini” jawab erena semangat. Bu erlisa tertawa kecil. “oke..besok kamu masih jadi karyawan saya..ya…”. mereka tertawa bersama seperti adik kakak.
Erena bersiap ke kantor. “loh eren, katanya kamu sudah mengundurkan dir,.kok masih kerja”. Tanya ibu erena. “iya bu..hari ini hari terakhir eren kerja, sekalian perpisahan sama temen-temen kantor”. “bos kamu gak marah….”. “enggak bu…dan semoga hari ini bukan hari perpisahan eren dikantor..tapi hari baru untuk perjuanga baru eren dan teman-tema eren”. Jawanb eren penuh semangat. Ibu erena hanya geleng-geleng tak mengerti perkataan anaknya itu. “ibu..kakak..eren berangkat ya..Assalammualaikum…”. eren berlari kecil menuju halte bis. Ibu dan kakak eren saling melempar senyum dan menjawab salam. “Alhamdulillah… dapet tempat duduk, biasanya harus berdiri sampai kantor”. Erena menikmati perjalan kekantor sembari memperhatikan foto keluarga di dompetnya. “Ayah… erena bisa kuliah…iya..akhirnya perjuangaan dan kesabaran eren ada jawabannya,, hari ini eren mau pamitan ke temen-temn kerja dan bu erlisa di kantor. Rasanya bahagia banget, kakak juga udah wisuda. Dan senin besok ada panggilan untuk interview. Semoga kakak diterima ya yah jadi erena bisa kuliah dengan uang tabungan dan dibantu kakak.. Thanks Rabb…. Tutur erena dalam hati.
Erena sibuk berpamitan kepada teman-temannya.. beberapa sahabat erena menetskan air mata. “eren kamu kok gak nomong-ngomong mau risain… tau-tau bilang senin udah gak kerja”. Celetuk rendi. “iya erena..tega kamu ninggalin aku”. Seorang teman tak mau ketingggalan. Erena hanya tersenyum dan sesekali memeluk teman-teman perempuannya. Masih asik denga teman-temannya. Terdengar bunyi langkah sepatu.“ Assalammualikum…..” semua mata tertuju pada seorang wanita yang baru saja datang. Ruangan yang rame menjadi hening. Cantk..sangat cantik.. wanita anggun berbalut busana style tertutup dengan jilbabnya yang menawan. wanita chines itu melempar senyum..dan mengulangi salamnya “Assallammualaikum wr.wb….”. semua saling bertatapan “Wa’alaykumsalam… “ jawab erena diikuti beberapa teman kerjanya yang muslim. “Bu erlisa…”. Erena mendekati perempuan yang mengenakan jilbab di depannya. “iya erena..ini saya.., kenapa..kaget ya?”. “Ibu….”. Ruangan yang sepi itu kembali dipenuhi suara decak kagum dan tak percaya. “oh iya eren.,saya mau minta maaf”. “Untuk apa bu?”. Bu erlisa mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Eren menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihat kedua bola matanya. “Eren..maaf kamu pasti kehilangan majalah-mjalah ini. Saya malu jika harus meminjam dan mengambalikan langsung sama eren,jadi saya pinjam sembunyi-sembunyi”. “ibu baca semua majalah saya ini…?” Tanya eren masih tidak percaya. “iya eren, melalui kamu dan majal-majalah kamu ini saya bisa membuka mata dan hati untuk mendapatkan kebenaran yang selama ini saya cari”. “subhanallah..”. ucap rendi dibelakang erena. “bu erlisa gak perlu minta maaf”. Eren dan atasannya itu saling melempar senyum dan berpelukan seperti adk-kakak. Sungguh Pemandangan yang menyejukan jiwa. “Ayah….. hari ini erena mampu jadi katak kecil tuli yang diceritakan ayah… dan hari ini erena merasakan keindahan dan ketenangan memetik cinta dari pohon kesabaran dan perjuangan yang selalu ayah dan ibu ajarkan kepada eren. Karena jalanmu ini Ya Rabb hamba juga mampu melihat hidayahmu yang engakau berikan kepada bu erlisa…….Thanks Rabb……”. Ucap eren dalam pelukan atasannya itu yang sekarang muslim. Mutiara bening tak mau ketinggalan membasahi pipi erena, mutiara itu lembut…selembut hati erena.
“Vina Oktavianty / FLP Pekalongan ^_^”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar